{"id":1796,"date":"2022-09-20T07:47:31","date_gmt":"2022-09-20T07:47:31","guid":{"rendered":"https:\/\/fornas.kebijakankesehatanindonesia.net\/?p=1796"},"modified":"2022-11-01T08:08:16","modified_gmt":"2022-11-01T08:08:16","slug":"kebijakan-diabetes-melitus-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/anhss.net\/id\/kebijakan-diabetes-melitus-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Kebijakan Diabetes Melitus di Indonesia"},"content":{"rendered":"<style>#sp-ea-2330 .spcollapsing { height: 0; overflow: hidden; transition-property: height;transition-duration: 300ms;}#sp-ea-2330.sp-easy-accordion>.sp-ea-single {margin-bottom: 10px; border: 1px solid #ffffff; }#sp-ea-2330.sp-easy-accordion>.sp-ea-single>.ea-header a {color: #444;}#sp-ea-2330.sp-easy-accordion>.sp-ea-single>.sp-collapse>.ea-body {background: #fff; color: #444;}#sp-ea-2330.sp-easy-accordion>.sp-ea-single {background: #ccdfe2;}#sp-ea-2330.sp-easy-accordion>.sp-ea-single>.ea-header a .ea-expand-icon { float: left; color: #444;font-size: 14px;}.sp-easy-accordion .sp-ea-single .ea-header a {\r\n  Font-size: 15px;\r\n}\r\n\r\n.sp-ea-one.sp-easy-accordion .sp-ea-single .ea-header a {\r\n  padding-top: 7px;\r\n  padding-right: 15px;\r\n  padding-bottom: 7px;\r\n  padding-left: 30px;\r\n}<\/style><div id=\"sp_easy_accordion-1776447986\"><div id=\"sp-ea-2330\" class=\"sp-ea-one sp-easy-accordion\" data-ex-icon=\"minus\" data-col-icon=\"plus\"  data-ea-active=\"ea-click\"  data-ea-mode=\"vertical\" data-preloader=\"\" data-scroll-active-item=\"\" data-offset-to-scroll=\"0\"><div class=\"ea-card  sp-ea-single\"><h3 class=\"ea-header\"><a class=\"collapsed\" id=\"ea-header-23300\" data-sptoggle=\"spcollapse\" data-sptarget=\"#collapse23300\" aria-controls=\"collapse23300\" href=\"javascript:void(0)\"  aria-expanded=\"false\" tabindex=\"0\"><i class=\"ea-expand-icon ea-icon-expand-plus\"><\/i> PENGANTAR<\/a><\/h3><div class=\"sp-collapse spcollapse spcollapse\" id=\"collapse23300\" data-parent=\"#sp-ea-2330\" role=\"region\" aria-labelledby=\"ea-header-23300\"><div class=\"ea-body\"><p>Kondisi pandemi COVID-19 yang menyebabkan banyak gangguan terhadap pelayanan kesehatan dan dampak sosial ekonomi lainnya melahirkan suatu agenda kebijakan Kementerian Kesehatan untuk melakukan transformasi sistem kesehatan. Tujuan dari transformasi sistem kesehatan untuk meningkatkan efektivitas, akuntabilitas, dan pemerataan pelayanan kesehatan. Dampak atau\u00a0<i>outcome\u00a0<\/i>yang diharapkan dari transformasi terdiri dari: meningkatkan kesehatan\u00a0 ibu, anak, keluarga\u00a0 berencana dan\u00a0 kesehatan reproduksi; mempercepat perbaikan\u00a0 gizi masyarakat; memperbaiki\u00a0 pengendalian penyakit; terciptanya Gerakan Masyarakat\u00a0 Hidup Sehat (GERMAS); dan memperkuat sistem\u00a0 kesehatan &amp;\u00a0 pengendalian obat dan\u00a0 makanan. Untuk mencapai\u00a0<i>outcome<\/i>\u00a0tersebut, Kementerian Kesehatan merancang enam pilar transformasi yaitu: 1) pelayanan primer; 2) pelayanan rujukan; 3) sistem ketahanan kesehatan; 4) sistem pembiayaan kesehatan; 5) SDM kesehatan; dan 6) teknologi kesehatan (lihat gambar 1).<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/fornas.kebijakankesehatanindonesia.net\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/5-1sep22.jpg\" alt=\"\" \/><\/p>\n<p>Mewujudkan transformasi sistem kesehatan, Kementerian Kesehatan membutuhkan berbagai dukungan dari pemangku kepentingan. Dukungan yang dibutuhkan khususnya terkait penyediaan\u00a0<i>evidence-based<\/i>\u00a0dan analisis kebijakan dalam melakukan transformasi agar dapat memperkuat enam pilar tersebut dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan yang akan datang. Salah satu tujuan penting yang ingin dicapai dari transformasi kesehatan adalah pengendalian penyakit. Di Indonesia, terdapat peningkatan beban biaya penyakit katastropik terhadap JKN. Dari tahun 2017 ke tahun 2018, terjadi peningkatan berturut \u2013 turut 26% (2017), 12% (2018), 15% (2019) dan turun -12% tahun 2020 karena situasi pandemi. Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menggambarkan bahwa penyakit katastropik tahun 2020 menempati 25% \u2013 31% dari total beban jaminan kesehatan. Pada tahun 2020, BPJS Kesehatan mengeluarkan biaya sebesar Rp20,0 triliun atau 25% dari biaya klaim layanan kesehatan JKN-KIS. Beban jaminan kesehatan untuk penyakit katastropik secara nasional dapat dilihat pada Gambar 2.<\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"\" src=\"https:\/\/diabetes-indonesia.net\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/gambar-1-beban-jaminan.jpg\" alt=\"\" width=\"532\" height=\"300\" \/><\/p>\n<p>Sebagian besar penyakit katastropik adalah penyakit tidak menular (PTM) yang memiliki faktor risiko metabolik, lingkungan, dan perilaku. PTM membutuhkan perawatan medis lama dan biaya tinggi, padahal kejadiannya dapat dicegah sejak dini melalui kegiatan promotif dan preventif di masyarakat. Diabetes melitus (DM) adalah penyakit katastropik yang komplikasinya dapat menyebabkan penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke yang berkontribusi tinggi terhadap klaim biaya kesehatan. Berdasarkan data riset kesehatan dasar (RISKESDAS) 2018, prevalensi DM di Indonesia adalah 10,9% atau sekitar 20,4 juta orang. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terjadi kenaikan jumlah pasien DM tipe 2 di Indonesia dari 8,4 juta pada 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada 2030. Prediksi ini ternyata terbukti dari laporan RISKESDAS yang menunjukkan adanya peningkatan prevalensi DM.<\/p>\n<p>Diabetes melitus adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah yang disertai kondisi penurunan produksi insulin dan\/atau resistensi insulin dalam tubuh. Penyakit ini bersifat kronis dan akumulatif, sehingga banyak muncul pada usia lanjut. Penyakit ini juga menghasilkan berbagai tantangan baik dari tingkat prevensi, layanan primer, rujukan, hingga rehabilitatif akibat komplikasi-komplikasi yang mungkin ditimbulkan.\u00a0 Keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemangku kebijakan, ahli dan klinisi, serta peneliti, dibutuhkan agar manajemen DM di Indonesia dapat ditangani dengan baik dan menurunkan beban kesehatan negara ini.<\/p>\n<\/div><\/div><\/div><div class=\"ea-card  sp-ea-single\"><h3 class=\"ea-header\"><a class=\"collapsed\" id=\"ea-header-23301\" data-sptoggle=\"spcollapse\" data-sptarget=\"#collapse23301\" aria-controls=\"collapse23301\" href=\"javascript:void(0)\"  aria-expanded=\"false\" tabindex=\"0\"><i class=\"ea-expand-icon ea-icon-expand-plus\"><\/i> TUJUAN<\/a><\/h3><div class=\"sp-collapse spcollapse spcollapse\" id=\"collapse23301\" data-parent=\"#sp-ea-2330\" role=\"region\" aria-labelledby=\"ea-header-23301\"><div class=\"ea-body\"><p>Tim Analisis Kebijakan FK-KMK UGM untuk Diabetes Melitus akan menyusun sebuah monograf untuk menilik kebijakan yang telah ada di Indonesia, membandingkan dengan situasi di lapangan, dan merumuskan usulan kebijakan untuk memperbaiki manajemen diabetes di Indonesia. Webinar ini hadir sebagai sarana untuk menunjukkan bagaimana mekanisme kajian dari kebijakan (<i>analysis of policy<\/i>) dan kajian untuk kebijakan (<i>analysis for policy<\/i>) dapat bergerak berdasarkan bukti ilmiah dan keilmuan klinisi ahli, supaya kebijakan yang hadir dapat selaras dengan kebutuhan dan pedoman tatalaksana yang ada.<\/p>\n<\/div><\/div><\/div><div class=\"ea-card  sp-ea-single\"><h3 class=\"ea-header\"><a class=\"collapsed\" id=\"ea-header-23302\" data-sptoggle=\"spcollapse\" data-sptarget=\"#collapse23302\" aria-controls=\"collapse23302\" href=\"javascript:void(0)\"  aria-expanded=\"false\" tabindex=\"0\"><i class=\"ea-expand-icon ea-icon-expand-plus\"><\/i> PESERTA<\/a><\/h3><div class=\"sp-collapse spcollapse spcollapse\" id=\"collapse23302\" data-parent=\"#sp-ea-2330\" role=\"region\" aria-labelledby=\"ea-header-23302\"><div class=\"ea-body\"><ol>\n<li>Akademisi (dosen dan mahasiswa), peneliti, dan analis kebijakan kesehatan di perguruan tinggi masing-masing provinsi<\/li>\n<li>Peneliti dan analis kebijakan kesehatan, organisasi profesi, dan organisasi non pemerintah<\/li>\n<li>Peneliti dan analis kebijakan kesehatan di lembaga pemerintah pusat dan daerah<\/li>\n<li>Pengambil keputusan bidang kesehatan dan terkait di pemerintah pusat dan daerah<\/li>\n<li>Pemerhati\u00a0 dan pemangku kepentingan terkait lainnya di bidang kesehatan<\/li>\n<\/ol>\n<\/div><\/div><\/div><div class=\"ea-card  sp-ea-single\"><h3 class=\"ea-header\"><a class=\"collapsed\" id=\"ea-header-23303\" data-sptoggle=\"spcollapse\" data-sptarget=\"#collapse23303\" aria-controls=\"collapse23303\" href=\"javascript:void(0)\"  aria-expanded=\"false\" tabindex=\"0\"><i class=\"ea-expand-icon ea-icon-expand-plus\"><\/i> WAKTU PELAKSANAAN<\/a><\/h3><div class=\"sp-collapse spcollapse spcollapse\" id=\"collapse23303\" data-parent=\"#sp-ea-2330\" role=\"region\" aria-labelledby=\"ea-header-23303\"><div class=\"ea-body\"><p>Hari, tanggal\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Rabu, 26 Oktober 2022<br \/>\nWaktu\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : 08.45 \u2013 12.45 WIB<\/p>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><\/div><style>#sp-ea-2331 .spcollapsing { height: 0; overflow: hidden; transition-property: height;transition-duration: 300ms;}#sp-ea-2331.sp-easy-accordion>.sp-ea-single {margin-bottom: 10px; border: 1px solid #ffffff; }#sp-ea-2331.sp-easy-accordion>.sp-ea-single>.ea-header a {color: #444;}#sp-ea-2331.sp-easy-accordion>.sp-ea-single>.sp-collapse>.ea-body {background: #fff; color: #444;}#sp-ea-2331.sp-easy-accordion>.sp-ea-single {background: #ccdfe2;}#sp-ea-2331.sp-easy-accordion>.sp-ea-single>.ea-header a .ea-expand-icon { float: left; color: #444;font-size: 14px;}.sp-easy-accordion .sp-ea-single .ea-header a {\r\n  Font-size: 15px;\r\n}\r\n\r\n.sp-ea-one.sp-easy-accordion .sp-ea-single .ea-header a {\r\n  padding-top: 7px;\r\n  padding-right: 15px;\r\n  padding-bottom: 7px;\r\n  padding-left: 30px;\r\n}<\/style><div id=\"sp_easy_accordion-1776447986\"><div id=\"sp-ea-2331\" class=\"sp-ea-one sp-easy-accordion\" data-ex-icon=\"minus\" data-col-icon=\"plus\"  data-ea-active=\"ea-click\"  data-ea-mode=\"vertical\" data-preloader=\"\" data-scroll-active-item=\"\" data-offset-to-scroll=\"0\"><div class=\"ea-card ea-expand sp-ea-single\"><h3 class=\"ea-header\"><a class=\"collapsed\" id=\"ea-header-23310\" data-sptoggle=\"spcollapse\" data-sptarget=\"#collapse23310\" aria-controls=\"collapse23310\" href=\"javascript:void(0)\"  aria-expanded=\"true\" tabindex=\"0\"><i class=\"ea-expand-icon ea-icon-expand-minus\"><\/i> AGENDA KEGIATAN<\/a><\/h3><div class=\"sp-collapse spcollapse collapsed show\" id=\"collapse23310\" data-parent=\"#sp-ea-2331\" role=\"region\" aria-labelledby=\"ea-header-23310\"><div class=\"ea-body\"><table style=\"width: 95.4049%;border-collapse: collapse;border: none;height: 839px\" border=\"1\" cellspacing=\"0\" cellpadding=\"0\">\n<tbody>\n<tr style=\"height: 24.95pt\">\n<td style=\"width: 14.9867%;border-right: 1pt solid #d9d9d9;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-left: 1pt solid #d9d9d9;border-top: none;padding: 5pt;height: 24px;vertical-align: middle\" width=\"103\">08.45-09.00<\/td>\n<td style=\"width: 50.9284%;border-top: none;border-left: none;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-right: 1pt solid #d9d9d9;padding: 5pt;height: 24px;vertical-align: middle\" colspan=\"2\" width=\"397\">Pembicara dan Peserta Join Zoom<br \/>\nBroadcasting Pra webinar dan Pembukaan<\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"height: 24.95pt\">\n<td style=\"width: 14.9867%;border-right: 1pt solid #d9d9d9;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-left: 1pt solid #d9d9d9;border-top: none;padding: 5pt;height: 77px;vertical-align: middle\" width=\"103\">09.00-09.15<\/td>\n<td style=\"border-top: none;border-left: none;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-right: 1pt solid #d9d9d9;padding: 5pt;height: 77px;vertical-align: middle;width: 105.938%\" colspan=\"2\" width=\"397\"><strong>Pengantar dan rangkuman webinar 1-9<\/strong><\/p>\n<p>dr. Vina Yanti Susanti, Sp.PD-KEMD, M.Sc., Ph.D - Ketua Pokja Endokrin Metabolik<\/p>\n<p><a class=\"merah\" href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=X9F23L41_ic&amp;t=201s\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">VIDEO<\/a><\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"height: 10px\">\n<td style=\"width: 120.925%;border-right: 1pt solid #d9d9d9;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-left: 1pt solid #d9d9d9;border-top: none;padding: 5pt;height: 10px;background-color: #fafafa;vertical-align: middle\" colspan=\"3\">\n<p style=\"text-align: center\"><b>Sesi Pemaparan, Pembahasan dan Diskusi<br \/>\n<\/b>Moderator: dr. Imam Manggalya Adhikara, PhD., Sp.PD<\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"height: 138px\">\n<td style=\"width: 14.9867%;border-right: 1pt solid #d9d9d9;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-left: 1pt solid #d9d9d9;border-top: none;padding: 5pt;vertical-align: middle;height: 91px\">09.15-09.45<\/td>\n<td style=\"width: 105.938%;border-top: none;border-left: none;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-right: 1pt solid #d9d9d9;padding: 5pt;vertical-align: middle;height: 91px\" colspan=\"2\"><strong>Sesi 1:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Draft Analisis Kebijakan DM untuk Tahun 2022<\/li>\n<li>Draft Usulan Kebijakan DM untuk Tahun 2023<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Narasumber<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li><strong>dr. Vina Yanti Susanti, Sp.PD-KEMD, M.Sc., Ph.D\u00a0 <\/strong>(Ketua Pokja Endokrin Metabolik FK-KMK UGM)<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"padding-left: 40px\"><a class=\"merah\" href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=X9F23L41_ic&amp;t=2102s\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">VIDEO<\/a> \u00a0 <a class=\"hijau\" href=\"https:\/\/drive.google.com\/file\/d\/1OIqf1ZXsOFyFjdjZz4P90cHvHZtVUjXL\/view?usp=sharing\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">MATERI<\/a><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong>Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes <\/strong>(Dosen Dept. Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial FK-KMK UGM)<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"padding-left: 40px\"><a class=\"merah\" href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=X9F23L41_ic&amp;t=1292s\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">VIDEO<\/a> \u00a0 <a class=\"hijau\" href=\"https:\/\/drive.google.com\/file\/d\/1oZn57YtBze9YkgDS0R43oXQLiO1pBRzr\/view?usp=sharing\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">MATERI<\/a><\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong>Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, Ph.D <\/strong>(Ketua JKKI)<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"padding-left: 40px\"><a class=\"merah\" href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=X9F23L41_ic&amp;t=3120s\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">VIDEO<\/a> \u00a0 <a class=\"hijau\" href=\"https:\/\/drive.google.com\/file\/d\/1wK64lOsaY-VNhC1_dRYsBzKbrAI8A6ME\/view?usp=sharing\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">MATERI<\/a><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"height: 24.95pt\">\n<td style=\"width: 14.9867%;border-right: 1pt solid #d9d9d9;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-left: 1pt solid #d9d9d9;border-top: none;padding: 5pt;height: 24px;vertical-align: middle\" width=\"103\">09.45-10.00<\/td>\n<td style=\"width: 105.938%;border-top: none;border-left: none;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-right: 1pt solid #d9d9d9;padding: 5pt;height: 24px;vertical-align: middle\" colspan=\"2\" width=\"397\"><strong>Pembahas: Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM., MARS<\/strong> (Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI)<\/p>\n<p><a class=\"merah\" href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=X9F23L41_ic&amp;t=3751s\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">VIDEO<\/a>\u00a0 \u00a0<a class=\"hijau\" href=\"https:\/\/drive.google.com\/file\/d\/1DKlW8lMiXE6CC9KbUtdIl2653Hcwc-kz\/view?usp=sharing\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">MATERI<\/a><\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"height: 22.2pt\">\n<td style=\"width: 14.9867%;border-right: 1pt solid #d9d9d9;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-left: 1pt solid #d9d9d9;border-top: none;background: #f2f2f2;padding: 5pt;height: 22px;vertical-align: middle\" width=\"103\">10.00-10.30<\/td>\n<td style=\"width: 50.9284%;border-top: none;border-left: none;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-right: 1pt solid #d9d9d9;background: #f2f2f2;padding: 5pt;height: 22px;vertical-align: middle\" width=\"397\">Diskusi dan tanya jawab<\/td>\n<td style=\"width: 55.0096%;border-top: none;border-left: none;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-right: 1pt solid #d9d9d9;background: #f2f2f2;padding: 5pt;height: 22px;vertical-align: middle\" width=\"255\">Moderator<\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"height: 129px\">\n<td style=\"width: 14.9867%;border-right: 1pt solid #d9d9d9;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-left: 1pt solid #d9d9d9;border-top: none;padding: 5pt;vertical-align: middle;height: 129px\">10.30-10.50<\/td>\n<td style=\"border-top: none;border-left: none;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-right: 1pt solid #d9d9d9;padding: 5pt;vertical-align: middle;height: 129px;width: 105.938%\" colspan=\"2\"><strong>Sesi 2: Konsep Jaringan Sosial dalam Pencegahan Penyakit<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li><strong>Dr. dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA<\/strong> (Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM)<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"padding-left: 40px\"><a class=\"merah\" href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=X9F23L41_ic&amp;t=6714s\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">VIDEO<\/a> \u00a0 <a class=\"hijau\" href=\"https:\/\/drive.google.com\/file\/d\/1SWCEe0cXIZDhy7kjDVDdf8cTZ4MGYYPM\/view?usp=sharing\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">MATERI<\/a><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong>Amelia Maika, S.Sos., MA. MSc., PhD<\/strong> (Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM)<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"padding-left: 40px\"><a class=\"merah\" href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=X9F23L41_ic&amp;t=7665s\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">VIDEO<\/a><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"height: 50px\">\n<td style=\"width: 14.9867%;border-right: 1pt solid #d9d9d9;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-left: 1pt solid #d9d9d9;border-top: none;padding: 5pt;vertical-align: middle;height: 50px\">10.50 - 11.00<\/td>\n<td style=\"width: 105.938%;border-top: none;border-left: none;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-right: 1pt solid #d9d9d9;padding: 5pt;vertical-align: middle;height: 50px\" colspan=\"2\"><strong>Pembahas:<\/strong> Rimawan Pradiptyo, S.E., M.Sc., Ph.D (Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM)<\/p>\n<p><a class=\"merah\" href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=X9F23L41_ic&amp;t=8445s\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">VIDEO<\/a><\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"height: 15.85pt\">\n<td style=\"width: 14.9867%;border-right: 1pt solid #d9d9d9;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-left: 1pt solid #d9d9d9;border-top: none;background: #f2f2f2;padding: 5pt;height: 15px;vertical-align: middle\" width=\"103\">11.00-11.30<\/td>\n<td style=\"width: 105.938%;border-top: none;border-left: none;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-right: 1pt solid #d9d9d9;background: #f2f2f2;padding: 5pt;height: 15px;vertical-align: middle\" colspan=\"2\" width=\"397\">Diskusi dan Tanya Jawab Sesi 2<\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"height: 334px\">\n<td style=\"width: 14.9867%;border-right: 1pt solid #d9d9d9;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-left: 1pt solid #d9d9d9;border-top: none;padding: 5pt;vertical-align: middle;height: 334px\">11:30-12:30<\/td>\n<td style=\"width: 50.9284%;border-top: none;border-left: none;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-right: 1pt solid #d9d9d9;padding: 5pt;vertical-align: middle;height: 334px\"><strong>Sesi 3:\u00a0Bagaimana Melakukan Pengembangan Kebijakan DM di Indonesia?<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Peran Perguruan Tinggi<\/li>\n<li>Peran Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Pembahas:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li><strong>dr. Haryo Bismantara, MPH<\/strong> (Tim AHS UGM)<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 40px\"><a class=\"merah\" href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=X9F23L41_ic&amp;t=12030s\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">VIDEO<\/a>\u00a0 \u00a0<a class=\"hijau\" href=\"https:\/\/drive.google.com\/file\/d\/1VP_zy1nu_iR2MjtPghiveZs1hAsMGed8\/view?usp=sharing\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">MATERI<\/a><\/p>\n<ul>\n<li><strong>dr. Raden Bowo Pramono, Sp.PD-KEMD<\/strong> (Tim Pokja Endokrin Metabolik FK-KMK UGM)<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 40px\"><a class=\"merah\" href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=X9F23L41_ic&amp;t=11428s\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">VIDEO<\/a><\/p>\n<ul>\n<li><strong>Dr. dr. Mahlil Ruby, M.Kes<\/strong> (Direktur Perencanaan, Pengembangan dan Manajemen Risiko BPJS Kesehatan)<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 40px\"><a class=\"merah\" href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=X9F23L41_ic&amp;t=10468s\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">VIDEO<\/a><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"width: 55.0096%;border-top: none;border-left: none;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-right: 1pt solid #d9d9d9;padding: 5pt;vertical-align: middle;height: 334px\"><strong>Fasilitator:<\/strong><br \/>\nTri Muhartini, MPA<\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"height: 24.95pt\">\n<td style=\"width: 14.9867%;border-right: 1pt solid #d9d9d9;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-left: 1pt solid #d9d9d9;border-top: none;padding: 5pt;height: 24px;vertical-align: middle\" width=\"103\">12.30-12.40<\/td>\n<td style=\"width: 50.9284%;border-top: none;border-left: none;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-right: 1pt solid #d9d9d9;padding: 5pt;height: 24px;vertical-align: middle\" width=\"397\">Closing Remark<\/p>\n<p><a class=\"merah\" href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=X9F23L41_ic&amp;t=13585s\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">VIDEO<\/a><\/td>\n<td style=\"width: 55.0096%;border-top: none;border-left: none;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-right: 1pt solid #d9d9d9;padding: 5pt;height: 24px;vertical-align: middle\" width=\"255\">Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, Ph.D<\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"height: 15.85pt\">\n<td style=\"width: 14.9867%;border-right: 1pt solid #d9d9d9;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-left: 1pt solid #d9d9d9;border-top: none;padding: 5pt;height: 15px;vertical-align: middle\" width=\"103\">12.40-12.45<\/td>\n<td style=\"width: 50.9284%;border-top: none;border-left: none;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-right: 1pt solid #d9d9d9;padding: 5pt;height: 15px;vertical-align: middle\" width=\"397\">Penutup<\/td>\n<td style=\"width: 55.0096%;border-top: none;border-left: none;border-bottom: 1pt solid #d9d9d9;border-right: 1pt solid #d9d9d9;padding: 5pt;height: 15px;vertical-align: middle\" width=\"255\">MC<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<\/div><\/div><\/div><div class=\"ea-card  sp-ea-single\"><h3 class=\"ea-header\"><a class=\"collapsed\" id=\"ea-header-23311\" data-sptoggle=\"spcollapse\" data-sptarget=\"#collapse23311\" aria-controls=\"collapse23311\" href=\"javascript:void(0)\"  aria-expanded=\"false\" tabindex=\"0\"><i class=\"ea-expand-icon ea-icon-expand-plus\"><\/i> REPORTASE<\/a><\/h3><div class=\"sp-collapse spcollapse\" id=\"collapse23311\" data-parent=\"#sp-ea-2331\" role=\"region\" aria-labelledby=\"ea-header-23311\"><div class=\"ea-body\"><p class=\"yiv2580845624MsoNormal\">PKMK-Yogya.\u00a0Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menyelenggarakan Forum Nasional Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia (JKKI) XII topik kesembilan dengan judul \u201cKebijakan Diabetes Melitus di Indonesia\u201d pada Rabu (26\/10\/2022). Forum nasional ini terselenggara atas kerja sama JKKI, PKMK UGM, mitra, Pokja Endokrin Metabolik FK-KMK UGM serta 11 universitas co-host.<\/p>\n<p class=\"yiv2580845624MsoNormal\"><span style=\"font-size: 18pt\"><b>Pengantar<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"yiv2580845624MsoNormal\"><img decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-2285\" src=\"https:\/\/fornas.kebijakankesehatanindonesia.net\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/T9-6.jpg\" alt=\"\" width=\"188\" height=\"153\" srcset=\"https:\/\/anhss.net\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/T9-6.jpg 350w, https:\/\/anhss.net\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/T9-6-300x243.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 188px) 100vw, 188px\" \/>Acara diawali dengan pengantar oleh dr. Vina Yanti Susanti, Sp.PD-KEMD, M.Sc., Ph.D selaku Ketua Pokja Endokrin Metabolik, yang menyampaikan rangkuman Webinar Dialog Kebijakan Diabetes Melitus (DM) seri 1-9 yang telah dilaksanakan sebelumnya. Pada webinar-webinar sebelumnya, telah dibahas secara komprehensif berbagai analisis kebijakan DM mulai dari level pencegahan, layanan primer, hingga layanan rujukan, serta telah didiskusikan berbagai usulan untuk perbaikan kebijakan DM di masa mendatang. Vina menyimpulkan bahwa diperlukan suatu transformasi kebijakan yang mengedepankan pendekatan inovatif, integratif, dan memiliki kontinuitas yang komprehensif, serta memiliki\u00a0<i>impact<\/i>\u00a0yang dapat diukur dengan indikator-indikator tertentu.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p class=\"yiv2580845624MsoNormal\"><span style=\"font-size: 18pt\"><b>Sesi I <\/b><b>Analisis Kebijakan DM Tahun 2022 dan Usulan Kebijakan DM untuk Tahun 2023<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"yiv2580845624MsoNormal\"><img decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-2286\" src=\"https:\/\/fornas.kebijakankesehatanindonesia.net\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/T9-9.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"244\" srcset=\"https:\/\/anhss.net\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/T9-9.jpg 500w, https:\/\/anhss.net\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/T9-9-300x244.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/>Memasuki sesi pertama, Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes menyampaikan usulan kebijakan untuk pencegahan DM di Indonesia. Kebijakan dan program pencegahan DM sebaiknya berfokus pada perbaikan gaya hidup, misalnya dengan membangun kesadaran tentang potensi risiko DM; menanamkan gaya hidup sehat sejak dini; meningkatkan akses makanan sehat; dan menciptakan iklim yang mendorong aktivitas fisik di masyarakat. Supriyati mengusulkan\u00a0<i>tagline<\/i>\u00a0khusus sebagai bentuk promosi kesehatan untuk pencegahan DM, yaitu\u00a0<i>\u201cCegah DM dengan SAMPerin\u201d<\/i>.<\/p>\n<p class=\"yiv2580845624MsoNormal\">Melanjutkan materi, dr. Vina Yanti Susanti, Sp.PD-KEMD, M.Sc., PhD menyampaikan usulan kebijakan DM dari segi klinis. Pasien yang terdiagnosis DM telah mengalami kerusakan sel beta pankreas sebesar 50%. Oleh sebab itu, Vina mengusulkan agar pencegahan DM sebaiknya dilakukan saat pasien masih dalam kondisi sehat melalui skrining DM. Selain itu, diperlukan juga kebijakan riset mengenai DM bagi individu dengan komorbiditas, agar dapat diberikan intervensi DM yang tepat sasaran.<\/p>\n<p class=\"yiv2580845624MsoNormal\">Sebagai penutup materi sesi pertama, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD selaku Ketua JKKI mengajak audiens berdiskusi, apakah mungkin menerapkan prinsip-prinsip transformasi kesehatan untuk menahan laju pertumbuhan DM? Laksono mengusulkan penggunaan data lokal untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah dan masyarakat luas agar dapat dirumuskan kebijakan-kebijakan DM yang baru. Untuk mendukung hal tersebut, perlu dibentuk suatu kelompok jaringan sosial yang memiliki visi mengurangi angka DM di kabupaten\/kota.<\/p>\n<p class=\"yiv2580845624MsoNormal\">Kegiatan dilanjutkan dengan tanggapan oleh pembahas dari lembaga penentu kebijakan, yaitu Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM., MARS selaku Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p class=\"yiv2580845624MsoNormal\"><span style=\"font-size: 18pt\"><b>Sesi II <\/b><b>Konsep Jaringan Sosial dalam Pengendalian Penyakit<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"yiv2580845624MsoNormal\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-2290\" src=\"https:\/\/fornas.kebijakankesehatanindonesia.net\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/T9-11.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"185\" srcset=\"https:\/\/anhss.net\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/T9-11.jpg 400w, https:\/\/anhss.net\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/T9-11-300x185.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/>Pada sesi kedua, Dr. dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA membuka sesi dengan memaparkan tentang aksi-aksi masyarakat sipil dalam\u00a0<i>diabetes-related upstream policies<\/i>. Terkait kebijakan pencegahan DM di level hulu, masyarakat dapat terlibat dalam membangun solidaritas ketika berhadapan dengan krisis penyakit, membangun kesadaran untuk menerapkan gaya hidup sehat, serta menjadi bagian dari komunitas kebijakan untuk pencegahan DM. Agar masyarakat sipil terpacu untuk mendorong terbentuknya kebijakan pencegahan DM, diperlukan sistem peringkat \u201ckota layak kesehatan\u201d di level nasional, sehingga masyarakat di setiap daerah akan berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik.<\/p>\n<p class=\"yiv2580845624MsoNormal\">Selanjutnya, Amelia Maika, S.Sos., MA. MSc., PhD memaparkan tentang konsep jaringan sosial dalam pencegahan penyakit. Menurut Amelia, jaringan sosial memiliki potensi besar dalam upaya pencegahan penyakit DM, namun dibutuhkan kerja sama banyak pihak dan upaya yang sistematis dan komprehensif dalam membangun jaringan sosial, termasuk meningkatkan kualitas agen dalam jejaring tersebut.<\/p>\n<p class=\"yiv2580845624MsoNormal\">Sebagai tanggapan untuk kedua materi narasumber, Rimawan Pradiptyo, S.E., M.Sc., PhD mengemukakan bahwa terdapat\u00a0<i>gap<\/i>\u00a0antara pengetahuan klinisi dan akademisi dengan pengetahuan masyarakat tentang DM, sehingga dengan adanya jaringan sosial maka dapat menjembatani\u00a0<i>gap<\/i>\u00a0tersebut.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p class=\"yiv2580845624MsoNormal\"><span style=\"font-size: 18pt\"><b>Sesi III <\/b><b>Diskusi: Bagaimana Melakukan Pengembangan Kebijakan DM di Indonesia?<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"yiv2580845624MsoNormal\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-2288\" src=\"https:\/\/fornas.kebijakankesehatanindonesia.net\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/T9-10.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"243\" srcset=\"https:\/\/anhss.net\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/T9-10.jpg 400w, https:\/\/anhss.net\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/T9-10-300x243.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/>Diskusi panel sesi ketiga dipandu oleh Tri Muhartini, MPA. Panelis pertama, Dr. dr. Mahlil Ruby, M.Kes selaku Direktur Perencanaan, Pengembangan dan Manajemen Risiko BPJS Kesehatan menyampaikan mengenai program pengelolaan DM yang sudah digagas oleh BPJS Kesehatan, yaitu Prolanis. Agar Prolanis dapat diakses seluruh masyarakat, BPJS telah melakukan inovasi dengan membentuk grup\u00a0<i>WhatsApp<\/i>\u00a0di level FKTP sehingga memudahkan pasien terhubung langsung dengan tenaga kesehatan. Selain itu, BPJS Kesehatan juga sedang mengembangkan telemedisin untuk memudahkan pemantauan pasien.<\/p>\n<p class=\"yiv2580845624MsoNormal\">Selanjutnya, panelis kedua yakni dr. Raden Bowo Pramono, Sp.PD-KEMD sebagai perwakilan dari Pokja Endokrin Metabolik FK-KMK UGM turut menjelaskan upaya yang telah dilakukan Pokja Endokrin Metabolik untuk menekan prevalensi DM. Pokja tersebut telah memberikan pelatihan kepada puskesmas di wilayah DIY untuk melatih kader Posbindu guna mendeteksi dini penderita DM, sehingga apabila ditemukan kasus DM di Posbindu, maka pasien tersebut dapat langsung dirujuk ke puskesmas. Panelis terakhir, dr. Haryo Bismantara, MPH selaku perwakilan dari\u00a0<i>Academic Health System<\/i>\u00a0(AHS) UGM menyampaikan bahwa untuk ke depannya, kolaborasi AHS akan bersifat kewilayahan, dimana Fakultas Kedokteran\/Rumah Sakit Pendidikan akan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan pelayanan dan penelitian kesehatan dengan menyesuaikan kondisi di masing-masing wilayah, termasuk untuk DM.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>Reporter:<\/strong><br \/>\nSalwa Kamilia Cahyaning Hidayat, S.Gz (PKMK UGM)<\/p>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-1796","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-tahun-2022"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/anhss.net\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1796","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/anhss.net\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/anhss.net\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/anhss.net\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/anhss.net\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1796"}],"version-history":[{"count":34,"href":"https:\/\/anhss.net\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1796\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2414,"href":"https:\/\/anhss.net\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1796\/revisions\/2414"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/anhss.net\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1796"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/anhss.net\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1796"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/anhss.net\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1796"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}